DAMAREMAS.COM, Kediri – Konflik internal yang tengah terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki fase krusial. Forum Kyai Sepuh NU menggelar Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, untuk merumuskan langkah konkret menjaga keutuhan organisasi dan menyelesaikan perbedaan yang berkembang di tingkat pusat.
Musyawarah ini dihadiri ratusan pengurus PWNU, PCNU, serta badan otonom NU dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah kyai sepuh dan mustasyar PBNU turut hadir, di antaranya KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Said Aqil Siroj, KH Muhammad Nuh Addawami, dan KH Zaki Mubarok. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf serta KH Ulil Abshor Abdala juga tampak mengikuti forum tersebut.
Dalam musyawarah tersebut, peserta menyepakati tiga opsi penyelesaian konflik internal PBNU, yakni islah, pengembalian mandat kepada Mustasyar NU, serta penyelenggaraan Muktamar Luar Biasa (MLB).
Opsi pertama adalah islah dengan batas waktu 3 x 24 jam sejak musyawarah digelar. Peserta meminta Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Rais Aam PBNU KH Miftakhul Akhyar untuk segera bertemu dan menyelesaikan persoalan secara musyawarah.
Apabila islah tidak tercapai dalam tenggat waktu tersebut, opsi kedua akan ditempuh, yakni pengembalian mandat kepemimpinan kepada Mustasyar NU. Selanjutnya, Mustasyar akan membentuk panitia penyelenggara Muktamar Luar Biasa. Peserta musyawarah memberikan waktu tambahan satu hari setelah tenggat islah berakhir untuk menjalankan opsi ini.
Opsi terakhir adalah pelaksanaan Muktamar Luar Biasa, yang akan diberlakukan apabila dua opsi sebelumnya gagal. Dalam kondisi tersebut, peserta Musyawarah Kubro menyatakan akan mencabut mandat yang diberikan kepada kedua pihak yang saat ini memegang kepemimpinan.
Juru bicara Musyawarah Kubro, KH Oing Abdul Muid, menjelaskan bahwa forum ini merupakan pertemuan ketiga yang digelar para sesepuh NU sebagai respons atas dinamika internal PBNU. Pertemuan sebelumnya dilaksanakan di Pondok Pesantren Ploso Kediri dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Musyawarah Kubro ini diharapkan menjadi jalan tengah yang bermartabat untuk menjaga persatuan NU sebagai organisasi keagamaan besar, sekaligus mencegah konflik internal berlarut-larut yang berpotensi melemahkan peran NU di tengah umat.






