DAMAREMAS.COM, Tulungagung – Perubahan iklim menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Tulungagung. Kondisi cuaca yang tidak menentu berpotensi menurunkan stabilitas hasil panen yang kemudian berdampak pada ketersediaan dan kenaikan harga pangan di pasaran.
Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, S.M., M.M. mengatakan, ketidakstabilan produksi pertanian tidak hanya mengancam ketersediaan pangan, tetapi juga memicu fluktuasi harga yang berdampak pada masyarakat, pelaku usaha hingga perekonomian daerah. Hal itu disampaikan saat membuka Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Produk Unggulan Kabupaten Tulungagung di halaman Kantor Dinas Ketahanan Pangan (DKP), Kamis (6/8/2026).
Menurut Ahmad Baharudin, kenaikan harga pangan juga dapat memengaruhi sektor lain yang bergantung pada hasil pertanian, seperti industri makanan dan minuman hingga pariwisata. Karena itu, kondisi tersebut perlu diantisipasi bersama agar dampaknya tidak meluas dan mengganggu stabilitas daerah. “Kondisi ini harus menjadi perhatian kita bersama agar tidak memberikan dampak yang lebih luas, karena dikhawatirkan bisa memberikan ancaman terhadap stabilitas keamanan wilayah,” ujarnya.
Sebagai daerah yang mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian, Pemkab Tulungagung menyiapkan sejumlah langkah strategis dari sektor hulu hingga hilir. Upaya tersebut meliputi peningkatan produktivitas melalui bantuan sarana produksi pertanian, pemanfaatan teknologi, perluasan lahan tanam, penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD), serta penguatan lumbung pangan masyarakat.
Pemkab Tulungagung juga meningkatkan keterjangkauan pangan melalui Gerakan Pangan Murah yang mempertemukan produsen dan konsumen secara langsung. Langkah ini diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi, menjaga harga tetap terjangkau, sekaligus membantu pengendalian inflasi. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong konsumsi pangan Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) dengan memanfaatkan pangan lokal serta mengoptimalkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga.
Ahmad Baharudin menyebut berbagai upaya tersebut telah memberikan hasil positif. Stok pangan mayoritas berada dalam kondisi surplus dan harga sejumlah komoditas relatif stabil. Tingkat inflasi Kabupaten Tulungagung tercatat 2,23 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur sebesar 2,87 persen dan nasional sebesar 2,88 persen. “Stok ketersediaan pangan mayoritas surplus dan harga komoditas pangan rata-rata relatif stabil,” ungkapnya.
Meski kondisi ketahanan pangan dinilai baik, Ahmad Baharudin meminta seluruh pihak tetap waspada menghadapi tantangan perubahan iklim dan potensi krisis pangan global. Ia mengajak OPD, camat, serta seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi dalam menjaga produksi, ketersediaan, distribusi hingga keamanan pangan. “Dibutuhkan sinergi bersama untuk menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan guna mewujudkan pangan berkualitas, harga terjangkau, petani sejahtera, dan masyarakat bahagia,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung Soni Weli Ahmadi, S.STP., M.M. menjelaskan, Gerakan Pangan Murah dan Produk Unggulan Kabupaten Tulungagung berlangsung selama tiga hari, 6–8 Agustus 2026. Kegiatan tersebut melibatkan 43 stan yang terdiri atas kelompok tani, gabungan kelompok tani, peternak, Perum Bulog Cabang Tulungagung, PG Modjopanggoong, OPD, IKM, UKM, pelaku usaha pangan, serta perwakilan dari 19 kecamatan. Berbagai komoditas seperti beras, bawang merah, bawang putih, cabai, telur, daging ayam, ikan, gula pasir, minyak goreng, sayuran, serta produk olahan pangan dan produk unggulan lokal dijual dengan harga terjangkau. Pemerintah berharap kegiatan tersebut dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok sekaligus memperkuat pemasaran produk unggulan daerah dan menjaga stabilitas pasokan serta harga pangan.






