DAMAREMAS.COM, Kediri – Ratusan orang dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Situs Persada Sukarno, Dalem Pojok, Kabupaten Kediri. Mereka mengikuti Ruwatan Negara dengan tema Indonesia Mercusuar Perdamaian Dunia, sebuah ritual spiritual yang tidak sekadar seremonial, tetapi juga ruang reflektif untuk memperkuat semangat persatuan dalam keberagaman sekaligus wujud rasa syukur nasional.
Kegiatan ini digelar bertepatan dengan peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Prosesi dimulai dengan arak-arakan pusaka, tumpeng, dan hasil bumi dari Balai Desa Pojok menuju rumah masa kecil Bung Karno di Dalem Pojok. Suasana khidmat terasa saat doa lintas agama dipanjatkan oleh tokoh-tokoh berbagai agama dan kepercayaan, memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan bagi bangsa Indonesia.
Tak hanya ritual doa, ruwatan juga menghadirkan kesenian tradisional seperti Wayang Mbah Gandrung dan Kidung Kecapi Sunda. Selanjutnya, peserta bersama-sama membaca sumpah-sumpah bersejarah: Sumpah Palapa, Sumpah Pemuda, hingga Sumpah Jabatan, yang diikuti oleh ratusan peserta dengan penuh penghayatan.

Menariknya, Ruwatan Negara ini dibagi dalam empat versi, yakni Bali, Majapahit, Sunda, dan Kediri. Menurut Kushartono, Ketua Harian Situs Dalem Pojok, tradisi ini sudah rutin digelar setiap 18 Agustus sejak tahun 2018 sebagai bentuk syukur atas berdirinya negara.
“Indonesia secara resmi berdiri pada 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi. Pada tanggal itu pula dasar negara, konstitusi, serta pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden pertama ditetapkan. Hanya dalam sehari, Indonesia berhasil mendirikan negara yang sah dan konstitusional, berbeda dengan banyak negara lain yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Itu adalah keajaiban sejarah yang patut disyukuri,” jelas Kushartono.
Lebih jauh, ruwatan ini dipandang sebagai pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan. Dalam ajaran Islam, semangat ini sejalan dengan cita-cita “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur” – negeri yang baik dengan Tuhan Yang Maha Pengampun, sebuah kondisi ideal yang hanya dapat terwujud jika rakyatnya senantiasa bersyukur dan menjaga persatuan.
Dengan demikian, Ruwatan Negara bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga menjadi penanda bahwa spiritualitas, kebudayaan, dan sejarah bisa berjalan beriringan dalam membangun Indonesia yang damai, berdaulat, dan bermartabat di mata dunia.






