DAMAREMAS.COM, Kediri – Umat Konghucu di Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Kota Kediri, menggelar sembahyang sebagai puncak perayaan Cap Go Meh, yang berlangsung 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Tradisi ini menjadi penutup rangkaian Imlek dan wujud ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah yang diberikan serta harapan perlindungan di tahun yang akan datang.
Perayaan Cap Go Meh di klenteng ini selalu ditandai dengan makan bersama lontong cap go meh—hidangan khas yang terdiri dari lontong, sayur rebung, dan opor ayam. Tahun ini, pihak Klenteng Tjoe Hwie Kiong menyiapkan 500 porsi lontong cap go meh yang dibagikan kepada umat dan masyarakat sekitar. Makan bersama ini memiliki makna mendalam, yaitu simbol kebersamaan, kekeluargaan, dan keharmonisan.
Selain itu, umat Konghucu juga menggelar doa khusus bagi bangsa Indonesia agar tetap harmonis, aman, dan kondusif. Suasana Cap Go Meh di Klenteng Tjoe Hwie Kiong semakin meriah dengan atraksi barongsai yang tampil di bawah sinar bulan purnama, menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar.
“Saya dan keluarga selalu menyempatkan diri datang ke klenteng ini setiap perayaan Cap Go Meh. Selain menikmati lontong cap go meh, kami juga senang menyaksikan barongsai,” ujar Sriani, salah satu warga yang turut merayakan.
Ketua Tri Darma Tjoe Hwie Kiong, Prajitno Sutikno, menegaskan bahwa Cap Go Meh bukan sekadar tradisi penutup Imlek, tetapi juga momentum untuk memperkuat persaudaraan dan rasa syukur.
Dengan semangat kebersamaan yang kental, perayaan Cap Go Meh di Klenteng Tjoe Hwie Kiong menjadi cerminan harmoni dan keberagaman yang terus terjaga di Kota Kediri.






