DAMAREMAS.COM – Penyakit autoimun merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat dalam tubuh sendiri.
Saat ini, lebih dari 80 jenis penyakit autoimun telah diidentifikasi, seperti lupus, rheumatoid arthritis, multiple sclerosis, dan tiroiditis Hashimoto.
Yang menarik dan sekaligus memprihatinkan, penyakit autoimun cenderung lebih banyak menyerang perempuan dibandingkan laki-laki.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80% penderita autoimun adalah perempuan. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi?
1. Pengaruh Hormon Estrogen
Hormon seks wanita, khususnya estrogen, diyakini berperan besar dalam meningkatkan risiko gangguan sistem imun.
Estrogen mempengaruhi sistem imun dan dapat meningkatkan respons kekebalan tubuh.
Meski bermanfaat untuk melawan infeksi, respons yang terlalu aktif justru bisa menyebabkan tubuh menyerang jaringan sehatnya sendiri.
Ini menjelaskan mengapa penyakit autoimun seringkali memburuk selama periode fluktuasi hormon seperti kehamilan, menstruasi, atau menopause.
2. Faktor Genetik
Faktor genetik juga memainkan peran penting. Wanita memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki hanya satu.
Beberapa gen yang berkaitan dengan sistem kekebalan berada pada kromosom X, dan ketika gen-gen ini bermutasi atau terlalu aktif, dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem imun.
Selain itu, jika ada riwayat penyakit autoimun dalam keluarga, risikonya bisa meningkat secara signifikan.
3. Respons Imun yang Lebih Kuat
Secara umum, sistem imun pada wanita bekerja lebih aktif dibandingkan dengan laki-laki.
Hal ini membuat wanita lebih tahan terhadap infeksi, namun juga rentan mengalami ketidakseimbangan dalam regulasi imun, yang bisa memicu gangguan sistem imun.
Respons imun yang terlalu kuat atau tidak terkontrol justru menjadi bumerang bagi kesehatan tubuh.
4. Paparan Lingkungan dan Gaya Hidup
Beberapa pemicu autoimun dapat berasal dari lingkungan, seperti infeksi virus, stres kronis, paparan zat kimia, dan pola makan tinggi gula atau olahan.
Karena perempuan seringkali mengalami tekanan ganda, baik dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan, tingkat stres kronis mereka cenderung lebih tinggi, yang bisa mempengaruhi kestabilan sistem imun.
5. Peran Mikrobiota Usus
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mikrobiota usus (kumpulan bakteri baik di usus) juga berperan dalam regulasi sistem imun.
Perbedaan komposisi mikrobiota antara perempuan dan laki-laki diduga menjadi salah satu faktor yang membuat perempuan lebih rentan terkena penyakit. Ketidakseimbangan mikrobiota dapat memicu reaksi imun yang abnormal.
Kecenderungan perempuan lebih rentan mengalami autoimun merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor hormonal, genetik, imunologis, dan lingkungan.
Memahami penyebab ini sangat penting agar perempuan dapat lebih waspada terhadap gejala awal dan mengambil langkah pencegahan sedini mungkin.
Konsultasi rutin dengan dokter, menjaga gaya hidup sehat, serta manajemen stres adalah langkah awal untuk mengurangi risiko terkena penyakit autoimun.






