DAMAREMAS.COM – Lebaran menjadi salah satu momen yang paling ditunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Selain ajang berkumpul bersama keluarga, Lebaran juga menjadi salah satu kesempatan untuk menikmati hidangan ketupat yang selalu ada di momen ini.
Sajian ketupat menjadi salah satu makanan khas yang selalu ada dalam perayaan Lebaran di Indonesia.
Lantas, apa sih makna dibalik hidangan ketupat yang identik dan menjadi makanan khas saat Lebaran ini? Simak penjelasan dibawah ini yuk!
Makna dan Filosofi Ketupat dalam Perayaan Lebaran
Bagi umat Muslim di Indonesia, perayaan Idul Fitri erat kaitannya dengan hidangan ketupat.
Ketupat merupakan hidangan khas yang disajikan pada hari istimewa tersebut, serta berbagai tradisi yang menyertainya, seperti Grebeg Syawal atau Lebaran Ketupat yang biasanya diadakan seminggu setelah Idul Fitri.
Melansir dari laman NU Online, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi), KH Jadul Maula, menjelaskan bahwa ketupat memiliki makna filosofis yang mendalam.
Dalam bahasa Jawa, ketupat disebut “kupat,” yang merupakan akronim dari “ngaku lepat,” yang berarti mengakui kesalahan.
Selain itu, ketupat memiliki bentuk persegi empat, begitu pula dengan simpul anyamannya. Angka empat dalam ketupat dianggap memiliki makna khusus.
Menurut Kiai Jadul, angka empat melambangkan empat arah mata angin, yakni Utara, Barat, Selatan, dan Timur.
Selain itu, angka empat juga mencerminkan empat mazhab dalam Islam, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Tidak hanya itu, namun juga mencerminkan empat khulafaur rasyidin, yakni Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Selain dalam konteks Islam, angka empat juga muncul dalam kisah pewayangan Jawa yang menggambarkan empat punakawan, yaitu Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong.
Makna spiritual lainnya adalah empat malaikat utama dalam Islam, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail.
Lebih lanjut, dalam tradisi Grebeg Syawal di Jawa, terdapat gunungan yang dihiasi dengan pohon dan empat binatang.
Pohon tersebut melambangkan pusat atau poros kehidupan, sementara keempat binatang, yakni harimau, banteng, kera, dan burung merak melambangkan berbagai jenis nafsu dalam diri manusia.
Harimau merupakan simbol nafsu amarah, yang jika tidak dikendalikan bisa merusak, tetapi jika diarahkan dengan baik dapat menjadi keberanian.
Banteng menggambarkan nafsu yang berkaitan dengan kesenangan duniawi, seperti ketertarikan pada lawan jenis dan harta benda.
Jika tidak dikendalikan, nafsu ini bisa menjerumuskan seseorang, namun jika diarahkan dengan baik, dapat mendorong seseorang untuk bekerja keras, berbagi, dan menolong sesama.
Sementara itu, kera melambangkan nafsu lawwamah, yaitu dorongan dasar seperti makan, minum, dan reproduksi.
Nafsu ini harus dikendalikan dengan baik karena berlebihan dalam makan bisa menimbulkan penyakit, sementara kurang makan juga berdampak buruk bagi kesehatan.
Sedangkan burung merak merupakan simbol nafsu muthmainnah atau ketenangan dalam diri manusia.
Namun, ketenangan yang berlebihan juga bisa membawa dampak negatif jika tidak diarahkan dengan baik.
Menurut Kiai Jadul, keempat makna filosofis ini diingatkan kembali melalui kehadiran ketupat saat Idul Fitri.
Pemahaman terhadap filosofi tersebut seharusnya dikelola dengan baik oleh umat Islam.
Ia menegaskan bahwa filosofi ini bukan sekadar pemaknaan semata, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kehidupan sosial.
Jika dipahami dan diterapkan dengan benar, berbagai makna tersebut dapat menciptakan masyarakat yang sejahtera, bahagia, serta adil dan makmur.
Namun, makna filosofis tentang ketupat ini semakin terkikis seiring waktu, sehingga yang tersisa hanya sekadar tradisi tanpa pemaknaan yang mendalam.






