DAMAREMAS.COM, Kediri – Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menandatangani Komitmen Bersama Kepala Daerah dalam Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting. Penandatanganan dilakukan dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara yang diikuti secara daring dari Ruang Joyoboyo Balai Kota Kediri, Selasa (22/9/2026).
Komitmen bersama tersebut menjadi penguatan sinergi lintas sektor dalam menjalankan berbagai program pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Kota Kediri.
Berdasarkan RPJMD Kota Kediri Tahun 2025-2029, target prevalensi stunting pada 2026 ditetapkan sebesar 17,5 persen. Sementara itu, capaian semester I 2026 tercatat sebesar 4,4 persen, dengan 718 balita teridentifikasi stunting dari 16.318 balita yang telah diukur. Angka tersebut turun dibandingkan prevalensi stunting pada 2025 yang berada di angka 4,6 persen.
Capaian tersebut juga menempatkan Kota Kediri di urutan kedua sebagai daerah dengan kinerja terbaik se-Jawa Timur berdasarkan Penilaian Kinerja Daerah dari Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri Tahun 2026.
“Alhamdulillah, di Kota Kediri prevalensi stunting turun. Di semester satu tahun 2026 ini angkanya 4,4 persen dengan jumlah kasus 718 balita. Tentu Pemerintah Kota Kediri akan terus berupaya mencegah dan menurunkan prevalensi stunting ini,” ujar Vinanda.
Menurutnya, pencegahan stunting merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Anak-anak yang tumbuh sehat diharapkan memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan.
Sejumlah program telah dilakukan Pemkot Kediri, di antaranya pemberian makanan tambahan (PMT) untuk mencegah dan mengatasi masalah gizi kurang serta stunting pada anak. Pemkot juga menjalankan program ATM Beras bagi warga desil 1-4 untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan, serta mendorong urban farming melalui surat edaran agar hasil panen dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
“Jadi nanti warga yang ada di desil 1 bisa kita support melalui urban farming. Kita juga terbantu dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperuntukkan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” ungkapnya.
Vinanda menegaskan, stunting terjadi karena berbagai faktor dan tidak hanya berkaitan dengan makanan maupun asupan gizi. Kondisi tempat tinggal dan lingkungan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Karena itu, Pemkot Kediri melalui DPKP memiliki program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) untuk mendukung terciptanya lingkungan tempat tinggal yang lebih sehat.
“Jadi penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh, tidak bisa hanya dari satu sisi. Kita perlu memastikan ibu dan anak mendapatkan lingkungan tempat tinggal yang sehat, akses layanan kesehatan yang baik, serta pemenuhan gizi yang cukup,” jelasnya.
Selain faktor lingkungan dan pemenuhan gizi, Vinanda menyebut kesiapan pasangan dalam menjalankan peran sebagai orang tua juga menjadi perhatian. Edukasi perlu diberikan sejak sebelum kehamilan, termasuk mengenai pemenuhan gizi, kesehatan fisik, dan kesiapan mental.
Ia juga menyoroti pentingnya pencegahan pernikahan dini. Pemkot Kediri terus berkolaborasi dengan Kementerian Agama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan calon pengantin agar memiliki bekal yang cukup dalam membangun keluarga yang sehat serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
“Tentu kita terus berkolaborasi dengan Kemenag untuk mengedukasi hal tersebut. Edukasi pencegahan pernikahan dini ini penting agar nantinya calon pengantin sudah siap, memiliki bekal yang cukup untuk membangun keluarga yang sehat dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal,” imbuhnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pj Sekda Kota Kediri Endang Kartika Sari, kepala OPD terkait, perwakilan Puskesmas se-Kota Kediri, serta tamu undangan lainnya.






